Headlines News :
Home » » Parkir 8 Pemain Inti, Bukti Kecerdasan RD

Parkir 8 Pemain Inti, Bukti Kecerdasan RD

Written By info kerja on Jumat, 18 November 2011 | 12.39

Surabaya  - Tim Nasional (Timnas) U-23 Indonesia mendapat pelajaran berharga, Kamis (17/11/2011) kemarin malam. Untuk pertama kalinya di ajang SEA Games 2011, Tim Garuda Muda tumbang. Yang lebih perih, tim asuhan Rahmad Darmawan kalah dari musuh bebuyutan, Malaysia. Tak pelak kekalahan ini memantik kekecewaan dan amarah dari pendukung setia Indonesia.

Sekilas, kekalahan ini memang menyakitkan. Siapapun yang melihat tadi malam pasti akan gregetan melihat permainan Yongki Aribowo dan kawan-kawan. Lihat saja, lini belakang yang digawang Septia Hadi dan Gunawan Dwi Cahyo bermain tak maksimal. Kerap kali mereka kedodoran dalam mengantisipasi serangan Malaysia.





Belum lagi debutan, Yericho Cristiantoko yang menjadi titik lemah Indonesia malam itu. Beroperasi sebagai bek kiri, pemain yang dibina di Uruguay bersama Timnas SAD ini justru lebih banyak membuat kesalahan. Sebiji gol Malaysia juga dimulai karena dia tidak sigap menghalau pergerakan pemain pengganti, Syahrul Azwari Ibrahim.

Belum lagi sektor tengah Indonsia yang tak segarang biasanya. Selama babak pertama, duet gelandang Mahadirga Lasut dan Ramdhani Lestaluhu, serta duo sayap Ferdinand Sinaga dan Lukas Mandowen tak berkutik. Lukas lebih banyak berlari. Dirga tak mampu menggantikan peran Egi, sedangkan Ramdhani tak bisa menjadi penyuplai bola yang baik untuk duet Yongki Aribowo dan Tibo.


Ya, pada laga ini, Rahmad memarkir delapan pemain inti yang diturunkan saat Indonesia mengalahkan Thailand. Kedelapan pemain itu adalah Kurnia Meiga, Abdurrahman, Diego Michiels, Hasim Kipuw, Egi Melgiansyah, Okto Maniani, Andik Vermansyah, dan Patrick Wanggai. Hasilnya, Indonesia bermain buruk, utamanya di babak pertama.

Masuk babak kedua, permainan Indonesia lebih hidup ketika Egi masuk menggantikan Dirga. Indonesia berhasil menguasai lini tengah. Ramdhani pun lebih kreatif sebagai jenderal lapangan. Yericho juga tak lagi grogi. Ia bermain lepas dan lebih disiplin. Belum lagi permainan trengginas yang ditunjukkan Ferdinand Sinaga.

Tapi masalah belum kelar. Tanpa Patrich Wanggai, Indonesia seperti kehilangan taringnya. Tibo pun kehiangan partner Papuanya. Yongki yang diturunkan sebagai pendamping Tibo justru bermain buruk sepanjang 90 menit. Eks pemain Arema dan Persik ini banyak melakukan kesalahan dan kerap kali kehilangan bola. Dengan tumpulnya lini depan, Indonesia akhirnya kalah 0-1.

Memang Indonesia kalah, tapi ada pelajaran besar yang bisa dipetik oleh Egi dan kawan-kawan. Kekalahan setidaknya bisa menjadikan Indonesia lebih berintrospeksi. Indonesia akhirnya tahu, bagaimana rasanya menderita kalah. Makin berharga ketika kekalahan itu terjadi di hadapan pendukung sendiri.

Bagi penulis, kekalahan Indonesia kemarin malam adalah buah kecerdasan seorang Rahmad Darmawan. Setuju atau tidak, Rahmad pantas disebut pelatih cerdas. Ia tak serakah dengan menyabet poin sempurna di Grup A. Rahmad justru berpikir jauh ke depan. Ia sadar, Indonesia hanya punya waktu sehari untuk istirahat.

Rahmad nampaknya belajar banyak ketika Indonesia kalah atas Malaysia di Piala AFF 2010 lalu. Saat itu, Indonesia membabat habis Malaysia di Grup A dengan skor 5–1. Kedua tim ini akhirnya bertemu di final. Saat ini pendukung Indonesia sangat yakin pasukan Alfred Riedl bisa menjadi juara. Keyakinan ini dilandasi kemenangan 5-1 di babak grup.

Tapi fakta berkata lain. Indonesia kalah telak 0-3 di leg pertama di Stadion Nasional Bukit Jalil. Kekalahan ini seolah menjadi pukulan telak Indonesia. Garuda yang sudah melesat tinggi, tiba-tiba terjatuh ke tanah. Meski akhirnya menang 2–1 di leg kedua, tapi Indonesia dipastikan gagal menjadi juara.

Ibarat pepatah, apa yang dilakukan Rahmad kemarin adalah 'kalah untuk menang'. Sabtu (19/11/2011) besok, Indonesia sudah diunggu jawara Grup B, Vietnam. Bukan maksud meremehkan kekuatan lawan, tapi penulis yakin Indonesia bisa memetik hasil maksimal dan melaju ke final. Penulis juga sangat yakin Indonesia mampu mengunci medali emas SEA Games cabang olahraga (cabor) sepakbola.



Di final nanti, bukan tidak mungkin Indonesia akan bertemu Malaysia lagi. Sebab di atas kertas, Harimau Muda bukan lawan sepadan untuk Myanmar. Di partai puncak itu, Indonesia pasti tak akan main-main. Rahmad akan menurunkan seluruh tim terbaiknya. Sebab ia tahu, kekalahan kemarin malam adalah modal untuk menang di kemudian hari. Semangat Garuda Muda!
Share this post :
 
Support : Creating Website | DONNAFM BLITAR | website
Copyright © 2011. donnafm - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by DONNAFM BLITAR
Proudly powered by DonnaFm Indonesia